Penyakit Difteri – Penyebab, Gejala dan Cara Mengobatinya

by
Penyakit Difteri – Penyebab, Gejala dan Cara Mengobatinya –  Pada penghujung 2017 lalu, Indonesia dihebohkan dengan kasus wabah penyakit difteri. Sekitar bulan Oktober hingga November tahun lalu, sejumlah provinsi bahkan telah melaporkan kasus wabah ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebenarnya wabah difteri bukan merupakan penyakit baru yang ada di negara kita. Tercatat sejak tahun 2011 hingga 2016, sebanyak 3.353 kasus difteri yang dilaporkan sukses menempatkan Indonesia di peringkat ke-2 dunia setelah India.
 
Mohamad Subuh – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan – menyebutkan bahwa wabah difteri yang terjadi pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya wabah ini hanya menyerang anak-anak saja, orang dewasa pun ikut terserang bahkan beberapa di antaranya meninggal dunia. Lantas apa sebenarnya penyebab penyakit ini? Bagaimana gejala yang muncul? Serta bagaimana cara mengobatinya?
 

Penyebab Penyakit Difteri

Difteri adalah penyakit menular yang diakibatkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menyerang selaput lendir (mucus) yang terdapat pada hidung dan tenggorokan. Kadang, bakteri ini juga dapat menyerang kulit. Penyebaran bakteri Corynebacterium diphtheriae sangat mudah terutama terhadap orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Racun yang dihasilkan oleh bakteri ini dapat membunuh sel-sel sehat sehingga akan terbentuk lapisan berwarna abu-abu dalam tenggorokan. Di samping itu, racun yang menyebar ke dalam aliran darah dapat merusak sistem kerja organ vital.  Jika racun masuk ke dalam jantung, ia akan merusak otot jantung yang berakibat gagal jantung. Apabila racun ini masuk ke dalam sistem pernafasan, maka si penderita akan merasakan kesulitan bernafas bahkan menyebabkan kematian.
 
Penyebaran bakteri Corynebacterium diphtheriae sangat mudah. Percikan ludah penderita difteri yang terhirup saat batuk atau bersin adalah salah satu penularan yang paling mudah. Benda-benda pribadi seperti handuk atau gadget juga dapat menjadi penyebab mudah menularnya bakteri ini. Bahkan jika Anda meminum air dengan gelas yang sama dengan penderita difteri, Anda dapat tertular penyakit ini. Banyak faktor yang meningkatkan resiko tertular penyakir difteri, antara lain memiliki sistem imunitas tubuh yang lemah, lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat, dan tidak mendapatkan vaksin difteri terbaru.

Simak Juga : Cara Mencegah Penyakit Kanker Leher Rahim

Gejala Difteri

Kadang-kadang, penderita tidak merasakan gejala penyakit difteri yang berarti. Umumnya, difteri memiliki rentang waktu atau masa inkubasi dari hari pertama bakteri masuk ke dalam tubuh antara 2 hingga 5 hari. Gejala yang sering muncul pada penderita difteri seperti terbentuknya membran tipis berwarna abu-abu pada tenggorokan atau amandel, menggigil dan demam, sulit saat bernafas, suara serak, tenggorokan terasa sakit saat menelan, pembengkakan kelenjar getah bening pada leher, pilek, lemas, dan detak jantung meningkat. Pada beberapa kasus, difteri juga dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka borok (ulkus).

Cara Mengobati Penyakit Difteri

Sebagai diagnosis awal, dokter akan bertanya beberapa hal tentang gejala yang timbul. Sampel lendir pada tenggorokan, hidung, atau ulkus akan diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium. Jika seseorang positif dinyatakan tertular difteri, pengobatan akan mulai dilakukan. Biasanya pasien dianjurkan untuk menjalani perawatan di ruang isolasi rumah sakit. Jenis obat yang akan diberikan adalah antibiotik dan antitoksin. Antitoksin disuntikkan pada pasien dengan tujuan untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Beberapa pasien yang mungkin alergi terhadap antitoksin maka sebaiknya memberitahu dokter agar suntikan diberikan secara bertahap dengan dosis antitoksin yang rendah
 
Antibiotik diberikan untuk menyembuhkan infeksi dan membunuh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Dosisnya disesuaikan dengan lamanya penyakit difteri yang diderita dan seberapa parah gejalanya. Pasien akan diperbolehkan keluar dari ruang isolasi rumah sakit jika sudah mengonsumsi antibiotik selama 2 hari. Namun biasanya dokter meminta pasien untuk tetap dirawat di rumah sakit agar perkembangan penyembuhannya bisa terpantau, dan yang terpenting adalah mencegah penyebaran penyakit. Bakteri difteri dalam aliran darah akan terus diperiksa di laboratorium. Jika masih terdapat bakteri, pemberian antibiotik akan dilanjutkan selama 10 hari.
 
Keluarga yang tinggal serumah atau orang-orang yang berada di sekitar penderita difteri sebaiknya juga ikut memeriksakan diri ke dokter untuk melihat jika ada gejala yang timbul karena penyakit ini sangat mudah menular. Sejumlah tes dan pemberian antibiotik perlu dilakukan untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran bakteri difteri. Bila dibutuhkan, vaksin difteri akan diberikan demi pencegahan penyakit.

Cara Mencegah Penyakit Difteri

Pencegahan penyakit difteri paling efektif yang dapat dilakukan, terutama pada anak-anak, adalah dengan melakukan imunisasi DPT, yaitu pemberian vaksin difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin ini diberikan 5 kali, yaitu saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan lima tahun. Pada saat anak berusia 10 dan 18 tahun, vaksin sejenis dapat diberikan sebagai perlindungan yang lebih maksimal. Jika anak terlambat diimunisasi DPT, maka tetap bisa dilakukan imunisasi susulan namun harus dengan anjuran dokter.

Baca Juga : Waktu Tidur Paling Cocok Untuk Bayi

Dengan hebohnya penyakit difteri yang sedang mewabah ini, ada baiknya jika kita selalu waspada. Jika diri, anak, atau anggota keluarga Anda mengalami gejala-gejala awal terkena bakteri difteri,  jangan menunda untuk segera periksakan ke dokter. Cegah penyakit ini dengan lebih menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Biasakan selalu mencuci tangan sebelum makan, bersihkan benda-benda pribadi Anda dengan antiseptik, tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan bernutrisi tinggi dan konsumsi vitamin C atau suplemen tubuh. Lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *