Waspada Narkolepsi, Serangan Tidur Secara Tiba-Tiba

by
Waspada Narkolepsi, Serangan Tidur Secara Tiba-Tiba – Beberapa waktu lalu, media massa kita dipenuhi dengan berita penangkapan mantan ketua DPR Setya Novanto. Ada satu hal menarik dari tayangan penyidikan kasus E-KTP tersebut di televisi. Ia sering terlihat tertidur saat diperiksa KPK. Bukan hanya sekali, melainkan terbilang cukup sering. Hal ini lantas menjadi perbincangan banyak netizen. Apa penyebab sebenarnya? Gangguan tidur yang dialami Setya Novanto ternyata bernama Narkolepsi, yaitu serangan tidur secara tiba-tiba akibat gangguan fungsi hipotalamus pada otak. Kondisi seperti ini termasuk jarang terjadi.
 
Walaupun bukan termasuk penyakit, namun narkolepsi cukup berbahaya. Gangguan tidur ini menyebabkan penderitanya sulit mempertahankan keadaan sadarnya. Ia bisa merasa kantuk sepanjang waktu, tertidur tiba-tiba dimana saja dan kapan saja bahkan saat melakukan aktivitas pada siang hari. Biasanya penderita narkolepsi bisa bangun kembali setelah tertidur dalam waktu sekitar 15 menit, namun rasa kantuk dapat kembali menyerang tidak berapa lama setelahnya. Sebaliknya, ia akan merasa sulit tidur pada malam hari. Sepertinya cukup merepotkan, ya?
 

Penyebab dan Cara Mengatasi Narkolepsi

Penderita narkolepsi biasanya sulit untuk berkonsentrasi. Ia mengalami rasa kantuk yang teramat sangat dan sulit dikendalikan. Pada kasus yang lebih ekstrem, penderita narkolepsi dapat mengalami sleep attacks, yaitu hilang kesadaran tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Ini tentu sangat berbahaya jika penderita sedang bekerja atau berkendara. Ia tidak akan mengingat apa yang telah terjadi setelah kesadarannya kembali. Gejala narkolepsi yang lain di antaranya :
 
1. Katapleksi, yaitu melemahnya otot secara mendadak. Seringnya ditandai dengan kaki yang tiba-tiba melemas, penglihatan mengabur dan tidak fokus, mulut membuka karena rahang menurun, atau kepala lunglai. Kondisi ini bisa diakibatkan oleh lonjakan emosi yang berlebihan seperti terkejut, marah, terlalu senang, atau tertawa. Biasanya katapleksi terjadi lebih karena emosi positif dibandingkan emosi negatif. Otot yang lemah ini dapat menyebabkan penderitanya jatuh secara tiba-tiba bahkan mengalami kelumpuhan selama beberapa menit.
 
2. Sleep Paralysis, atau disebut juga kelumpuhan saat tidur. Umumnya terjadi di awal tidur atau saat hendak bangun tidur. Penderita mungkin akan merasakan hal-hal yang membuatnya panik seperti sedang dikejar-kejar sesuatu atau panik seperti akan ada bahaya mengancam. Beberapa orang mengenal gejala ini dengan sebutan ‘ketindihan’, karena penderita juga bisa merasa seperti ada makhluk halus yang sedang menindih di atas tubuhnya, sehingga ia akan kehilangan kemampuan untuk bergerak atau berbicara. Kondisi ini dapat berlangsung beberapa menit.
 
3. Halusinasi, yaitu keadaan mimpi yang masuk ke alam sadar. Penderita biasanya berhalusinasi seolah mendengar atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak nyata, seperti melihat orang yang dikenalnya, bayangan, bahkan makhluk halus. Halusinasi ini tidak jarang menyebabkan penderita narkolepsi dianggap menderita gangguan jiwa.
 

4. Depresi, yaitu keadaan sedih yang berlebihan. Depresi dapat menyebabkan terganggunya aktivitas penderitanya. Kondisi ini dapat ditandai dengan perasaan sedih, lelah berlebihan, kehilangan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur.

Simak Juga : Ketahuilah Mitos dan Fakta Tentang Cegukan

Penyebab Narkolepsi

Hormon yang bertugas untuk meregulasi tidur seperti hipokretin dan oreksin diproduksi secara rendah oleh tubuh. Hal ini bisa disebabkan oleh gangguan autoimun atau akibat cedera sehingga bagian otak yang memproduksi hormon tersebut rusak. Gangguan autoimun yang dapat mengarah pada gejala narkolepsi antara lain cacat genetik, perubahan hormon, infeksi streptokokus dan  infeksi flu. Sedangkan faktor yang menyebabkan kerusakan pada bagian otak penghasil hormon hipokretin antara lain tumor otak, penyakit ensefalitis, sklerosis multipel, dan cedera di kepala. Selain itu, perubahan pola tidur dan stress psikologis juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang menderita narkolepsi.

Pengobatan untuk Penderita Narkolepsi

Hingga kini belum ada metode khusus dari dunia medis untuk menyembuhkan narkolepsi. Obat-obat yang sudah tersedia hanya bisa mengurangi atau meredakan gejala narkolepsi agar penderita tidak terganggu dalam melakukan aktivitas. Misalnya, modafinil dan methylphenidate yang termasuk obat golongan stimulan saraf pusat akan diberikan agar penderita dapat mengendalikan rasa kantuknya di siang hari. Untuk mengurangi gejala katapleksi, penderita akan diberi obat antidepresan seperti clomipramine dan imipramine, fluoxetine, atau orepinephrine reuptake inhibitors.
Selain dengan pemberian obat, penderita narkolepsi juga bisa melatih diri di rumah untuk dapat tidur dengan baik pada malam hari sehingga mengurangi rasa kantuk pada siang harinya. Hal-hal yang bisa dilakukan antara lain mandi dengan air hangat atau membaca buku sebelum tidur. Sebaiknya hindari konsumsi kafein, merokok, minum minuman beralkohol, dan makan dengan porsi besar sebelum tidur. Buatlah suasana tempat tidur senyaman mungkin dan berlatih untuk tidur dan bangun pada jam yang relatif sama setiap hari. Jangan lewatkan olahraga ringan beberapa jam sebelum tidur agar kualitas tidur malam membaik.
Jika rasa kantuk mulai datang pada siang hari, luangkan waktu sejenak untuk istirahat. Usahakan untuk menahan kantuk apabila tiba-tiba muncul di saat dan tempat yang tidak tepat. Selain itu, hindari konsumsi obat yang dapat menyebabkan kantuk seperti obat pilek atau alergi. Konsultasikan pada dokter jika penderita narkolepsi juga sedang pilek atau mengatasi alergi. Biasanya dokter akan meresepkan obat yang tidak menimbulkan rasa kantuk.

Baca Juga : Penyebab dan Cara Mengatasi Jamur Kuku

Penderita narkolepsi dapat mengalami dampak seperti obesitas akibat terlalu banyak tidur dan kurang aktif bergerak. Pada kondisi yang lebih parah, penderita dapat mengalami cedera jika kantuk muncul di saat yang tidak tepat. Olahraga rutin dapat membantu penderita narkolepsi mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan mencegah obesitas. Pastikan ia tidak mengemudi kendaraan sendiri agar tidak terjadi cedera apabila tiba-tiba katapleksi terjadi.

Informasi Kesehatan:

  • berita tentang narkolepsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *